Motif pohon ‘Batang Garing’, lambang
kehidupan masyarakat Dayak yang
menggambarkan hubungan manusia dengan alam, dengan
sesama, dan dengan Tuhannya
Motif 'Kawung' khas Yogyakarta yang menyerupai irisan buah aren atau kolang- kaling, melambangkan keseimbangan, kesucian batin, dan pengendalian diri
Rumah tradisional Kalimantan Tengah, 'Huma Betang' atau 'Rumah Betang' dapat mencapai Panjang hingga 150 meter dan dihuni oleh belasan keluarga.
Benang Bintik adalah wastra khas Dayak Kalimantan Tengah dengan berbagai motif khas, di antaranya adalah motif Batang Garing, motif Huma Betang, motif burung Tingang, ukiran, motif senjata, motif Balanga, dan motif campuran lainnya. ‘Benang’ dalam Bahasa setempat adalah helaian kain putih, sementara 'bintik' memiliki arti desain atau gambar yang ada di atas helaian kain.
Juhu Singkah adalah salah satu kuliner khas Dayak di Kalimantan Tengah, yaitu sayur batang rotan muda yang seringkali dimasak bersama dengan ikan baung dan terong asam. ‘Juhu’ dalam Bahasa Ngaju artinya masakan berkuah, sedangkan singkah artinya umbut atau batang rotan yang masih muda.
Masjid Raya Darussalam yang berada di Komplek Islamic Center Darussalam memiliki ciri khas ornamen Telabang, atau perisai tradisional Dayak. Masjid ini juga memiliki sebuah Menara di sisi barat daya dengan ketinggian 114 meter, yang diklaim sebagai menara masjid tertinggi di Indonesia.
Rumah Joglo dikenal dengan atapnya yang menjulang dan berbentuk trapezium bertingkat. Dibangun tanpa paku logam, melainkan menggunakan sistem sambungan kayu (pasak).
Batik Yogyakarta cenderung menggunakan warna hitam, putih, dan sogan cokelat dan motif geometris dan simetris, berbeda dari batik Solo yang cenderung lebih halus dan floral.
Gudeg dibuat dari Nangka muda yang dimasak berjam-jam dengan santan dan rempah hingga berwarna cokelat keemasan. Disajikan dengan sambal krecek, telur pindang, hingga ayam masak opor.
Masjid Gedhe Kauman diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1773 M dan terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara dan berdekatan dengan Keraton Yogyakarta. Menampilkan arsitektur tradisional Jawa dengan atap bersusun tiga "Tajug Lambang Templok' yang melambangkan tiga tahapan dalam pencapaian kesempurnaan hidup manusia: syariat, hakikat, dan ma'rifat.